
dan mula terlihat warna asli dari batu tersebut adalah putih.
Dibawanya batu itu ke rumahnya, dipotongnya dengan menggunakan alat pemotong batu, hingga percikan api hasil gesekan dengan batu itu sesekali terlihat. Dihaluskan permukaannya yang kasar dari batu tersebut dan digosok.
Siang dan malam, ia berusaha membuat sebentuk batu penghias cincin, dari warna batu yang putih dan kasar, berangsur-angsur menjadi putih, mengkilap dan licin. Pencari batu tersebut tahu betul kesempurnaan bentuk sebuah batu penghias cincin, akhirnya terciptalah sebuah batu yang bernilai.
DARI JINGGO
Sebenarnya alam memberikan berbagai pelajaran buat kita.
Dibawanya batu itu ke rumahnya, dipotongnya dengan menggunakan alat pemotong batu, hingga percikan api hasil gesekan dengan batu itu sesekali terlihat. Dihaluskan permukaannya yang kasar dari batu tersebut dan digosok.
Siang dan malam, ia berusaha membuat sebentuk batu penghias cincin, dari warna batu yang putih dan kasar, berangsur-angsur menjadi putih, mengkilap dan licin. Pencari batu tersebut tahu betul kesempurnaan bentuk sebuah batu penghias cincin, akhirnya terciptalah sebuah batu yang bernilai.
DARI JINGGO
Sebenarnya alam memberikan berbagai pelajaran buat kita.
Kita adalah sebongkah batu, kondisi lapuk, berlumut
dan rapuh adalah keadaan
kita yang tidak mampu melawan cubaan.
Pukulan penukul, gesekan alat pengilat,
percikan api adalah gambaran
dari cabaran yang datang untuk menimpa kita.
Kadang kita menolak cabaran yang datang,
Kadang kita menolak cabaran yang datang,
tetapi sebenarnya cubaan tersebut adalah dari tuhan untuk
membentuk kepribadian kita sehingga
kita boleh dilihat bersinar.
Sekarang mari kita fikirkan, dimanakah posisi kita?
Sekarang mari kita fikirkan, dimanakah posisi kita?
Apakah kita seketul batu yang tidak berharga?
Ataukah kita seketul batu yang sedang
mengalami proses menjadi
sebuah batu penghias cincin yang
memiliki nilai yang mahal?