Jumaat, 11 September 2009

jangan jadi hakim...

Sekelompok orang tua yang beradab yang hidup sebelum revolusi budaya di Cina. Mereka membentuk sebuah kelompok di mana mereka akan ada bersama-sama saling tukar-menukar kebijaksanaan tua yang diturun- temurunkan sejak Kongfucius,MoTze dan Chuang Tze. Di samping itu mereka akan bersama-sama menikmati minuman teh.
Secara bergilir mereka berperanan menjadi tuan rumah dan masing-masingnya berusaha menghidangkan teh terbaik atau termahal untuk menyenangkan tamu- tamunya, serta untuk mendapatkan pujian dari mereka.
Suatu saat mereka berkumpul bersama di rumah dari seorang yang paling dihormati dalam kelompok tersebut. Ia menghidangkan tehnya dengan cara serta yang istimewa.
Ia mengukur daun teh dengan menggunakan senduk yang terbuat dari emas.
Tamu - tamu yang hadir tak ada yang berkata-kata kerana mereka tahu kalau teh yang dihidangkan itu adalah teh yang termahal yang belum pernah dihidangkan sebelumnya.
Semua merasa puas setelah menikmati hidangan yang disediakan. Sambil memperhatikan para tamunya yang sedang menikmati minuman istimewa itu, sang tuan rumah berkata;
“Teh istimewa yang kamu minum ini sesungguhnya dibeli di pasar malam yang dijual oleh para petani sederhana. Ia sama dengan yang diminum oleh para petani kecil.
Hendaknya kita belajar bahwa segala sesuatu yang baik tidak tergantung pada mahalnya harga dari barang tersebut, tetapi tergantung pada berapa besar penghargaan dan apresiasi yang kita berikan terhadap barang tersebut.”
DARI JINGGO
Itu cerita biasa yang kita pernah lalui dan tengok.
penghakiman.
kita membuat penghakiman berdasarkan apa yg kita tengok secara zahir.
belum tentunya apa yang kita hakimi itu betul pada ' tempatnya '.
dan diyakini bahawa nilai barang bukan pada mahal harga tapi pada nilainya.
WALAUPUN MURAH.
dan kita.nilai manusia bukan terletak pada siapa dia - tapi bagaimana penglibatan dalam kehidupan sehari mampu menjadikan kita lebih baik dari semalam.
konteks kita : sejauhmana penglibatan kita disini mampu memberi penambahbaikkan dari sehari kesehari.
SEJAUH MANA KITA TAHU MENGHARGAI.

20 ulasan:

Pn Kartini berkata...

Salam
Menjadi lumrah dunia..apa yg dizahirkan itulah yang dijadikan ukuran...

Tirana berkata...

Kita beri ukuran secara luaran sebab kita memandang dengan mata kasar. Andainya kita memandang dengan mata hati, tentu kita tahu menghargai apa yang ada dan apa yang berlaku disekeliling kita.

- jinggo - berkata...

PnKartini

lumrah - itu yg menjadikan kita kadang2 - beria2 - untuk baguskan apa yg nampak dulu - sebab dikatakan ukuran manusia menjadikan kita lebh bermotivasi - betul ke !
zahirnya - kita gagal untuk mempraktikkan bagusnya diri berdasarkan penghakiman...

- jinggo - berkata...

puan tirana

mata zahir
mata hati..
buta mata - mana yg mahu kita dahulukan...he....
kita ambil iktibar dari dari diatas....

zai berkata...

Kadang2 kita juga terlalu teruja apabila memilih pasangan...menyangka yg kita pilih adalah terbaik dan melengkapi pakej yang dicari...setelah dimiliki baru diketahui tak semuanya yang berkilau itu intan rupanya hanya kaca yang bersinar..

Che' Pit berkata...

salam cgu jinggo,

hmm adat manusia.. cepat buat andaian hanya berdasarkan kepada mata.. sbb tu org kata mata yg paling byk menipu..

ironinya jika kita buat satu air sejuk bewarna merah, mesti bila pandang kita akan kata air sirap.. mesti sedap.. tapi kalau sekadar air sejuk yg diletak pewarna merah, rasanya sekadar rasa air kosong biasalah..

moral of the story, apa ek? hmm jgn minum air sejuk warna merah tak bergula, ngeh ngeh ngeh..

Marzalina berkata...

kadang kala manusia terlalu mudah menilai dari luaran sedangkan penilaian dengan mata hati adalah lebih utama...dont judge a book by its cover..saya rasa kena kenali dahulu barulah buat penilaian, tapi selalunya kita menilai melalui our first impression rite?

LiNda berkata...

Salam ckgu jinggo.

Kuasa mata sangat besar pengaruhnya . Tidak boleh disalahkan..kerana itulah pancaindera yang termahal dlm menganalisis secara luaran.

Bukankah kita telah diberi akal dan minda yang kuat dlm menilai sesuatu perkara ?

so.. sila gunakan okeh !

- jinggo - berkata...

...setelah dimiliki baru diketahui tak semuanya yang berkilau itu intan rupanya hanya kaca yang bersinar..

kak zai

saya petik kata2 tu..
akhir kita bersangkabaik dengan semua keadaan......

- jinggo - berkata...

che pit

ngeh...ngeh..
jangan minum air sirap
minum air sarbat....

- jinggo - berkata...

intan.

itu kata kita dikala normal..
kadang terperangkap juga bila membuat penghakiman

- jinggo - berkata...

puan linda

akal dan minda
akal - tengok
minda - membuat tafsiran....

Shemmi berkata...

mudah utk berkata-kata...

tp utk melakukan apa yg dikata itu payah..pendek kata..kita mmg sentiasa mgjadi 'hakim' tak bergaji pd seseorg @ sst benda..

- jinggo - berkata...

shemmi

memang - kita sentiasa menjadi hakim...
pada semua keadaan...

mirae berkata...

yup..kte slalu buat keputusn tanpa mnilai..tgk jek nk trus jatuhkn hukuman or buat andaian..x leh la mcm tu kn..nilai dulu..tp impact first impression ni mmng sngt besar..boleh beri impak positive or negative..depend on individu..

Ary berkata...

masakan rasa dapat merasa cikgu....

- jinggo - berkata...

mirai

pandangan pertama - kita dilihat hampir 70 %..
terutamanya 4 saat pertama...
untuk itu jangan silap untuk membina pandangan pertama...

- jinggo - berkata...

ary

terima kasih kerana pandangan...

MaizaC'Joe berkata...

Salam Jinggo..

dah menjadi lumrah kita sentiasa menjadi penghakiman.. perlu menilai dulu sebelum keputusan di buat.. tapi dng harapan keputusan itu adalah yang betul juga terbaik..

~Insan Biasa~ berkata...

sejauh mana kita tahu menghargai? untuk mereka yang mahu merenung diri sendiri...maka akan ada jawapannya.
tapi majoriti individu lebih memikirkan 'sejauh mana aku dihargai'...

Eco Kid Adventure on Facebook